Sunday, December 15, 2013

DESEMBER

Jika telah sampai di gang penanggalan
pada sobekan terakhir
Pada sobekan takdir
Hujan akan menasbihkan dirinya menjadi sampul
Untuk sebelas lipatan kenangan
Yang terselip di kepala-kepala

Ambillah ingatan meski telah begitu renta
Meski picing mata rayap telah begitu intai
Dan lamat akan segera menamatkan yang berakhir pada lupa
Meski telah jatuh almanak pada sobekan terakhir
Rekatkan cerita baru yang akan terlahir

Di tanah yang telah desember
Akan ada televisi dengan kilas balik
Tajuk Indonesia satu tahun
Sedang para gila harta di dalam tanah yang menjulang tinggi
Akan berdebat tentang laba rugi
Buku-buku tebal berisi angka-angka yang tidak kita mengerti

di tanah yang telah basah hujan desember
masih ada kita yang harus rela menekuri pikiran masing-masing
pada sebelas lipatan waktu
apa yang telah kita lakukan, apa yang telah kita likukan
dan ujung tahun seperti ujung parang
yang memaksa kita untuk memilih
untuk terluka, atau terlupa

jogja 2013

Wednesday, December 4, 2013

CATATAN TAK TERDUGA

CINTA (PUN) TAK SELANCANG ITU
"tak akan ada yang bisa memisahkan kita sayang"
esoknya, kekasihnya mati tersambar petir

BOCOR
jika tiba musim hujan
air kenangan masuk seenaknya lewat atap kepalaku
yang lupa kuperbaiki

CINTA MATI
dia masih tersedu
memeluk kekasihnya yang bersimbah darah
lalu dia pergi menuju sungai belakang rumah
dibuangnya pisau, sidik jarinya masih tertinggal disana

KETIKA PRESIDEN SAKIT
"maaf, kami harus segera melakukan operasi"
seluruh keluarga istana cemas
begitu dada dibelah, dokter kaget. ada bendera amerika didalamnya

PELUKIS KIDAL
yang belum pernah ia lukis hanya tangan kanannya
ia bahkan tak pernah melihatnya

ADU LARI
mana yang lebih cepat sampai rumah
malaikat maut, atau nasi yang kubawa untuk anakku

SANTET
setelah merapal tujuh mantera
asu itu berubah menjadi aku

IRONIS
ketika bapakku sedang bingung mencari pinjaman untuk makan hari ini
presidenku sedang sibuk melatih pidatonya tentang pertumbuhan ekonomi

TERSESAT DI PARIS
uang kita habis, peta kita hilang, bahasa kita kacau
satu-satunya jalan keluar adalah bangun dari tidur kita masing-masing




Friday, November 22, 2013

MUSIM HUJAN

jika telah tiba dimana
kurus batang pohon di lembah-lembah
menggigil sebab tanah bersimbah
air, telah sampai pada saatnya
dan dendang lumut hijau di pelukan dinding
telah begitu pandai memainkan lagu getir
"gigilkan basah pada tubuh beton itu"

maka hidangkan secangkir hujan
di beranda rumah dengan basah jalan dan orang yang terlalu lalang
agar nafas kita menderu karena percakapan mencairkan segala yang dingin
terlebih musim, akan menjadi hangat meski diluar air terus dikirim lambung langit

tetapi plastik akan membuat pelangi
berwarna warni
sungai lebih cepat mengaliri
dan mengakhiri tunas pada pot-pot penghias rumah

demi teori tata letak, bantaran yang tersengal bangunan liar
demi perahu karet, dan lantai rumah yang berwarna masam
demi air yang naik terlalu tinggi
tetaplah terjaga agar bunyi gemeretak gigi yang beradu tak terlalu gaduh
gatal pada tubuh bisa kau anulir sebagai anasir
dan barak adalah pilihan terakhir karena rumah telah mencair

sebab jika tiba musim dimana
musibah tak lebih dari musim bah
akan lebih dulu menguburkan, sebelum menyuburkan

Saturday, November 16, 2013

HIRAETHUS

rindu adalah bahasa
yang membicarakan pelukan sebelum ia tiba di tubuhmu
rindu itu anak
dan kau ibunya

ISTANA

Istana gempar. Tiba-tiba, ratusan tikus yang entah dari mana datangnya masuk ke istana dan mengacak-acak istana. Persediaan makanan diserang. Perabot, karpet, bahkan pintu-pintu kamar berlubang. Istana kacau. Dimana-mana terdengar bunyi cericit tikus yang membuat risih telinga. Kerusakan terparah ada di bagian dapur. Para pengurus istana terlihat kocar-kacir dan bingung. Mereka membawa alat apa saja sebagai senjata untuk memukul tikus-tikus yang menyebalkan itu. Presiden pun ikut turun tangan.namun, hingga malam hari, hasilnya nihil. Tikus-tikus yang jumlahnya semakin bertambah itu belum juga teratasi. Presiden geram. dini hari, presiden mengadakan rapat. seluruh pengurus istrana, pengawal presiden, para pembantu, bahkan tukang kebun diminta mengikuti rapat tersebut. 
"Saya tidak tahu bagaimana bisa istana yang memiliki  puluhan pengurus ini bisa kecolongan. Ini tidak tanggung-tanggung, bukan satu atau dua ekor tikus, tetapi ratusan!" tegas presiden sambil menggebrak meja.
"saya tidak mau tahu, besok istana ini harus bersih dari tikus-tikus memuakkan itu, rapat dibubarkan"

Esoknya, keadaan tidak berubah, malah semakin parah. tikus-tikus telah berkoloni dengan cepat. diperkirakan tikus yang berada di istana mencapai ribuan ekor. presiden semakin marah, kalut dan bingung. hal ini akan membuat presiden malu jika ada tamu kenegaraan mengunjungi istana tersebut. hingga penasehat istana mengusulkan agar membentuk tim untuk menyelidiki penyebab datangnya tikus-tikus itu ke istana. Presiden menyetujuinya, dibentuklah tim penyelidik dari berbagai ahli. Dan para ahli diberi waktu selama tiga hari untuk menyelidikinya.

Tiga hari berselang, presiden ingin mengetahui hasil yang didapat tim penyelidik bentukkannya. diadakanlah rapat.
Ahli teknologi pangan, mengutarakan pendapatnya. Menurutnya tikus-tikus datang karena penyimpanan pangan dalam istana jauh dari standar, solusinya adalah dibuat bangker guna menyimpan persediaan makanan istana, sayang usulnya ditolak.
ahli kedua menyampaikan temuannya. ahli interior berpendapat banyak tikus berdatangan karena pemakaian interior yang membuat tikus tertarik. Entah dari segi, harum, jenis kayu, atau cat yang dipakai. solusi yang diusulkan, mengganti seluruh interior istana. usulannya mental.
ahli berikutnya, adalah seorang arsitek handal. Dia berpendapat penyebabnya adalah bangunan istana saat ini sangat mudah ditermbus oleh tikus, solusinya, perombakan total dan pembangunan ulang istana. usulannya juga ditolak.
berjam-jam banyak ahli mengutarakan gagasan dan solusinya, tetapi semua usulan ditolak oleh presiden. hingga tersisa satu ahli yang belum mengutarakan temuan dan solusinya.
"oke, kamu belum mengemukakan temuanmu. Sekarang, kau pakar atau ahli dalam bidang apa, dan apa pendapatmu." ucap presiden
"terima kasih pak, sebelumnya maaf jika usulan saya nanti kurang bisa diterima oleh khayalak. saya cuma petani desa. menurut pengalaman saya sebagai petani, jika tiba-tiba ada ratusan tikus yang datang disebuah tempat, maka ditempat tersebut telah ada satu induk besarnya, atau bisa dikatakan terdapat ratunya. dan tikus-tikus yang datang ke istana ini adalah tikus yang unik. berbeda dengan tikus lainnya, tikus ini jika dibunuh langsung justru akan semakin bertambah. Kita harus bisa menangkap dan membunuh induk besarnya itu. baru semua tikus akan lenyap.
setelah saya melakukan penyelidikan selama tiga hari di istana ini, saya berhasil menemukan induknya."
tepuk tangan peserta rapat terdengar riuh. Presiden tampak senang sekaligus penasaran.
"baik, jadi dimana induk tikus tersebut?" tanya presiden.
"induk besar tikus-tikus itu ada dihadapan saya sekarang. yaitu presiden sendiri. solusinya adalah, tidak lain selain menangkap dan membunuh presiden."

istana, hening.

Thursday, November 7, 2013

SEBAB MUNGKIN SAJA

sebab bisa saja
bukan senja sewarna kuning remang
atau sore raya dengan bayang sisa tubuh yang diperam gaduh
sebab mungkin saja
gadis dengan ikat rambut sewarna tulang pucat
juga tali yang telah ditautkan dalam ulu hati tuan
yang menarik jauh bulan samar 
menuju peristiwa khusyuk
pandangilah wajah yang membenamkan angin berat
hingga damai menggugurkan demam dan dendam

sebab mungkin saja
kita sepasang kasih yang menancap dalam-dalam
dan akar mati kembali hidup
nyala sepi kembali redup
atau
kita adalah asmara tak berkesudahan
kucir rambutmu akan menyudahi angin dingin
yang menyeret ampas percakapan menuju nasib yang terbakar di hari lalumu
di tungku hatimu
hangatkanlah, selagi takdir bukan tentang percuma

sebab mungkin saja
gadis berbaju cerlang kulit mangga
yang membatasi tuan mendikte waktu
untuk mencari atau mencairkan kita

Wednesday, November 6, 2013

JIKA KAU TANYA MENGAPA

sejak dunia mengenalkan batas
"hentikan kapal jika telah tiba air keruh dan pasir basah"
dan kudayung sampan menuju pulau penuh batang tebu
"sesapi sampai kau mengerti getir"
tetapi sepi lebih dulu tunai daripada pemberangkatan kemudian

sejak dendang lagu cemas lebih sering terdengar 
ketimbang
suara parau burung penanda daratan tinggal sejengkal
sejak,
sajak tak lagi mampu menggugurkan waktu
dan melipatnya menjadi perahu
sajak yang tak lagi memalingkan tatap menuju cekung langit
dengan pengharapan
akan gugur bulan sebesar biji kopi yang dihantar petir
menuju tengadah tanganmu

jika kau tanya mengapa
sejak tak kuhitung sudah berapa kali jatuh belasan bakal ketika memetikkanmu puisi yang ternyata adalah dua belas!
sejak penanggalan kulipat, kubagi menjadi retakan tulang, pecahan batu, putik bunga dan kering daun jati
kubakar,
asap bulan sembilan
jika kau benar-benar menghitung
akan ada tiga belas untuk dua belas
sepuluh untuk sembilan
tetapi apalagi
padahal duga lebih dulu menyaru sebelum diammu benar-benar bungkam
tukang dendang bisa saja salah memetik gitar
pandai emas bisa saja salah menyangka perak

sejak, kumau kau apa saja asal jangan diam
tegaslah, bergegaslah, apapun
asal jangan diam
lalu dunia mengenalkan batas
menagih tepian tebing dalam hutan gunung antara
mengharapkan atau menghirabkan

jogjakarta 2013

Thursday, October 24, 2013

HARI SEPI

mari coba berhitung
telah berapa purnama tiba di gang-gang penanggalan
telah berapa pasang air laut mengaramkan jala para nelayan
sebab aku tak pandai menghitung kehilangan
sebab sementara tetap pasang air laut bagi nelayan

lalu waktu biarkanlah beku
atau cairkan agar kita sama-sama tahu
rindu mana yang meleleh lebih dulu

aku tak begitu lihai menipu waktu
jejak kota, jejal kata siapa lagi kalau bukan kau
yang membakar pangkal malam dengan pingkal cerita tua
lagu-lagu radio butut di geladak
menghibur pelaut beraroma tuak

ketika punggungmu telah sampai pada yang membenamkan
dermaga tumbang menindih sebelah jantung sebelah paru
sebilah sepi sesaplah sampai ulu hati
benang yang menggulung layar kapal
"ini pun tetap kita tenun, sebab kita telah jadi hari esok"

nanti, ketika kering daun kelapa jatuh di tanah hujan
rumah-rumah telah kutidurkan di atas ranjang
ketuklah jika kau ingin
kutuklah jika kau dingin

disini, kucium bau sisa rindu kemarin pagi
dan hari baru sebab rindu tunas tak berkesudahan
dengan elang laut yang mencoba peruntungan
dengan biji embun yang gigil
nyiur angin berat di daun pohon trembesi
sayup suara bocah yang malas pergi mandi
harum tungku tertindih pantat kuali
lihatlah,dengan rindu di sudut mata puan
aku telah begitu pandai mengeja gejala pagi yang telah kau.

jogjakarta 2013

Saturday, September 28, 2013

SUATU HARI DI SEBUAH DERMAGA

bukankah telah kita ramalkan
tanpa bola-bola kristal, helai kartu dan doa-doa dalam ramuan 
kita memang harus benar-benar dekat
karena satu itu utuh, dan dekat tak akan membuat jatuh
 tetapi jauh berkali-kali ditabuh
dalam kepala ritme menari aduh
bukankah kita telah diramalkan
oleh rapal-rapal mantera penangkap ikan
oleh bulan yang warnanya sekuning tembaga
kita akan berlabuh dalam satu dermaga
tapi dada kita tetap bergemuruh
sejak laut pasang, dan ombak bergulung menelan sauh
sejak angin menaikkan layarmu 
menuju perbukitan di kejauhan sana
mata ini masih saja intai
meski perihnya serupa tersiram garam
dan kelopak telah hitam legam
sambil mengucap mantera sederhana
-aku ingin melihatmu, aku ingin melihatmu_-

oh, tuan penyihir di pulau api
tuan penyair di pulau sepi 
ajari aku tuah 
lebih-lebih berkah
dari para penggumam doa
bagaimanapun rindu telah padu
jangan karamkan meski dihantam gunung batu

lalu seorang nelayan merapat membawa dua ekor tenggiri di tangan kanannya
dan belukar jala di tangan kirinya
"duh nak, janganlah terlalu lama biru
lekas asapi saja ikan ini, sambil dendangkan lagu 
bayangkanlah ketika pagi nanti
 gadis itu tersenyum dan bertanya kabar tentangmu
dan aroma rindu keluar dari tubuhnya"

jogjakarta 2013

Friday, September 27, 2013

DI PERJALANAN PULANG

pada jalan yang menidurkan malam di pangkuanmu itu
tunas-tunasmu telah bercikal
beranak-pinak menjadi jabang yang bercabang merah
"hangatkan lagi ingatanmu" katamu 
bagaimana bisa
jika kau sendiri adalah nyala pada suluh apiku
dekatkan lagi ingatanmu padaku" katamu
dan seketika kita telah dekat dari yang terlihat
jalan-jalan mulai menggambar lagi wajahmu
pagi akan benar-benar mengutuk kita dengan serapah matari
tentang kenangan yang tak kenal pagi
tentang ingatan yang lupa untuk tertidur
demi jalan yang menidurkan malam di pangkuanmu itu
asap kenangan itu mengepul tepat diwajahku
di kota yang akan kau singgahi nanti
akan kau temui kepul asap dan riuh jalan
tetapi disana
kau tak akan menemukan asap sewarna pastel, sebasah kabut
yang aromanya membuatmu bergidik
tajam serupa mata badik, tapi tak cukup untuk melukaimu
di kota yang ditumbuhi hutan beton itu
belantara kenangan kita adalah akar
tancapkan agar kau tak lekas tumbang
subuh telah lama rubuh
di telingaku, percakapan kita masih saja utuh
mengapa kau harus memasuki peradaban sejauh itu?
"agar aku mengerti apa arti pulang, kelak" jawabmu

demi jalan yang menidurkan malam di pangkuanmu itu
adakah yang lebih maut
dari pagi yang terlalu larut
dimana aku, kau
dan pelukan yang dilepas pelan-pelan
tak bisa saling menahan

solo-jogja 2013



Sunday, July 21, 2013

YANG (TETAP) TAMPAK DARI JAUH


Dan jauh, rupanya, telah menggulung beberapa lembar puisi, juga menumpulkan mata pena dihadapan kering kerling tinta.
Dan jauh, nyatanya, telah memaksa sejumput angin untuk mengepung diriku dengan gambaran-gambaran tentang esok ketika aku telah selesai, tentang lipatan-lipatan ingatan yang menjadi perahu untuk kemudian berlayar menuju ngarai matamu hingga aku tidak lagi membutuhkan puisi untuk membuatmu maklum mengapa tuhan menciptakan kita dalam satu cerita yang tak pernah kita mampu tamatkan.

Aku telah lama berlabuh pada dermaga yang kau bangun dengan debu kenangan, gebu rindu dan warna-warna toska. sedang untuk kembali berlayar, aku terlalu takut pada laut yang menyimpan cerita-cerita kuno, mitos hantu laut, dan cenayang para penjelajah. Ah biar saja kujelajahi peta-peta di dirimu, terjal hatimu, puncak rindumu, lembah kenanganmu, curam takutmu. Aku tidak peduli lagi perahu telah koyak ditelan abad. Ah biar kupapah lagi kayu-kayu agar sempurna geladak, yang pecah setelah dihantam jaman yang begitu badai. Ah biar kutenun lagi layar agar gelombang tak lagi berani menelan mimpi-mimpi yang telah terbentang.
Di kejauhan dan ketinggian seperti ini, aku tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk melihatmu. Karena, pada akhirnya, aku adalah air yang membawa perahu turun ke dalam dermaga.  



jogja 2013

Tuesday, June 18, 2013

ODE SEBUAH NAMA

Tuliskan lagi sejarah sebuah nama
Ia, yang telah menjadi peristiwa dan udara
Atau sungai, tempat menuju beku yang paling bara
Rumbia dengan langit penuh kenangan belantara

Namun, ia sendiri adalah matahari
Untuk segala yang hidup, untuk semesta yang telah toska,  untuk hati yang paling laki-laki?
Riwayat telah melumpuhkan segala yang batas; ada baiknya kita pugar lagi, kita rajut kembali
Uraikan lagi simpul yang paling temali, agar kicau tak lagi mengacau, agar
Luka yang telak itu tak menjadi satu-satunya peta, menyusuri perbukitan yang kelak, memintanya tinggi

 Coba sekali saja wiridkan sebuah doa
"Hidup yang sekali ini, mestinya kita berdua saling menghidupkan, selamanya"

Sunday, June 16, 2013

PAHLAWAN YANG SEDANG MENJADI PENGEMIS

maka, tubuhnya yang miskin telah dijadikan ladang
oleh lalu lalang yang kepalang

konon, tangan buntungnya adalah hasil rekaan
dari sebuah parang, dari sebuah perang
dan dibalut ingatan

nasib buruk telah lama bertengger di buhul-buhul kepalanya
tetaskan hidup 
atau tuntaskan hidup

dalam batok itu
tuhan sedang nyaman
bersemanyam

di negeri ini, pejuang adalah 
dia yang kemarin memperjuangkan bangsanya,
dan hari ini memperjuangkan nasibnya, sendirian


Tuesday, May 21, 2013

SYAHID

cadas pualamku yang paling batu
asahlah asihku
menjadi pedang-pedang tobat
bernubuat
delapan kaki empat pundak
karnaval manusia
oh, ini aku dan liang lahat
manunggal
karena Kau yang maha tunggal
inilah kami tinggal sepenggal
dosa
(telah memegatku tadi
ketika Tuhan menjelma pagi)

jogja, 2013

Friday, May 17, 2013

bernyanyi (sekali lagi)

tuhan yang maha merdu
mana rindu mana sendu
selain sengal lelah buruh-buruh
adakah nyanyian yang lebih rubuh

ketika doa mereka kabur
dibalik jam kerja dan lembur
lalu tenanglah tenangkan
tuhan tahu
mana syukur mana takabur

Thursday, January 24, 2013

BANJIR

djakarta

Selagi bandang
Air yang tiba-tiba datang
Mendiamkan kota
Mendamaikan kita
Dengan kumuh-kumuh
Bendeng-bendeng lusuh
Nyala kan suluh
Jangan padam seluruh
gorong-gorong
gang-gang kosong
segala yang sekedar penghias
sampah ditepian ruas
beri kami jalan untuk lekas
pulang kerumah
untuk berbenah
oh,luap
biarkan kami terlelap
dalam kota yang gemerlap
gelimang air
gelinjang getir
pulanglah menuju asal
selebih kami memulai sesal
kepada arus-arus alir
entah muasal hilir
yang sedang naik semaunya
jangan kau seret semuanya


Jogjakarta 2013

Thursday, January 17, 2013

NASIBMU DIBUNGKUS ROTI

Kedalaman paling sunyi, terlebih hati
Keluguan semesta, protokoler negara, kitab-kitab agama
Adakah kami masih mempercayainya?

Kau masih tertunduk, sedang lebam wajahmu semakin biru. Tanganmu dingin, borgol yang terpasang di pergelanganmu juga dingin, juga wajah dua orang berseragam dihadapanmu, dingin. Kau tidak berani menatapnya. Hanya lantai yang putih kusam kau lihat lekat-lekat seperti menerawangi keriuhan tadi sore. Masih terasa. Masih sangat terasa hangat wajahmu dengan luka-luka merah. Memendam gundah di kejauhan sana. Pucat wajahmu yang beradu warna dengan merah dan biru itu semakin membuatmu buruk rupa yang sial. Plak!! Satu pukulan mendarat di wajahmu, lagi.
“jawab!! Mengapa kau mencuri ha?!”
Tamparan dan pertanyaan tegas itu tak membuatmu gusar. Hanya terkejut sebentar, lalu tertunduk lebih dalam lagi menatap lantai dengan lekat. Bayangan-bayangan berlalu silang diatas lantai. Tembok-tembok kota. Jalan-jalan kota yang ramai bising, kota bising yang mengasingkanmu. Orang-orang didalam bangunan-bangunan tinggi menjulang. Orang-orang yang tak kenal luang. Di sebuah bangunan supermarket kau berhenti. Diam. Bibir kau gigit berkali-kali sedang keringat keluar dari kepal tanganmu. Miskin tak membuat kau menyerah. Nasib tak membuat kau rebah. Namun lapar selalu menagih untuk cepat dibayar dengan tuntas. Demam dan lapar tarik-menarik dalam pikiranmu.  Satu helaan nafas, cukup satu helaan nafas kau butuhkan untuk membumbungkan nyali untuk memasuki supermarket itu. Nyalang matamu menyala diantara titik keragu-raguan.
Plak!! Satu pukulan lagi semakin mempertegas bayangan-bayangan itu. Deretan angka-angka, deretan kaleng-kaleng, harum ac dan sedikit keberanian di dalam dadamu. Kau berdiri di deretan roti. Bungkus-bungkus roti kau baca satu per satu seolah kau sedang membaca nasibmu disitu. Kau temukan satu. Waktu yang kadaluarsa di bungkus roti. Kau masukan kedalam saku jaketmu. Lalu dengan gegas kau pergi menuju pintu. Hanya kau lupa, kau tertinggal dunia, kadaluarsa tetap memiliki harga. Tetap bernilai dalam mata mereka. Mesin itu, kau melewatkannya, kau melewatinya, lalu berbunyi begitu nyaring. Kerumunan berpaling. Seorang petugas keamanan menggeledahmu dan kau tinggal pasrah. Larilah, lari. Tapi suaraku tenggelam dalam teriakan mereka. Petugas membawamu keluar, namun orang-orang dengan cepat menemukan wajahmu. Sekejap kerumunan membuat wajahmu biru. Apakah memang hukuman Tuhan segeram kepal tangan mereka? Apakah hukuman tuhan selalu meninggalkan bilur-bilur yang belur? Aduhmu juga tenggelam. Ah, segalanya kini tenggelam, bahkan untuk harapan.
Plak!! Pukulan ketiga. Membuatmu semakin tertunduk. Jika kedalaman paling dalam bisa kau jangkau, mungkin kau sudah masuk kesana. Namun kedalaman itu tak pernah kau temukan dalam lantai kusam itu, juga supermarket yang rotinya kau curi itu, juga orang-orang yang memukuli itu, juga dunia yang membuatmu pilu.
“mengapa kau mencuri hei?!”
“sudahlah, percuma juga ditanyai, masukkan saja ke sel lalu kita buat laporannya. Aku sudah mengantuk, ingin pulang cepat-cepat.”
“yasudah, aku juga malas berurusan dengan maling kelas teri begini, gak ada duitnya. Ayo ikut!”
Tangannya menggamit lenganmu dengan kasar. Seketika, bibirmu bergerak, berbicara dengan terbata
“maaf pak, saya boleh minta tolong, anak saya yang demam dan lapar menunggu saya digubuk. Tolong berikan roti ini kepadanya, jika sempat.”

Sunday, January 6, 2013

DURHAKA

percik air hujan yang menipu cuaca ini
Tak sepicik jelalat kedurhakaanku kepadamu
Masih tentang rintik airmata di malam penghujan itu
Aku kecipak air pada deras asih asuh yang tak pernah terbaca musim
Hanya ibu yang mampu membuat hujan begitu lebat namun teduh
Hanya ibu yang mampu menyuguhkan teguk air dari derai peluh
Tak pernah selesai meski berkali kutenggak ganas
Mungkin sudah kemarin dahaga kasih ini ibu ranggas
Sedang berkali bantahku pangkas
Sekali selesai helaan nafas
Ibu teliti ibu lembut ibu tenang ibu maklum ibu ibu ibu dari segala ibu
ibu yang pintar ibu yang cekat ibu yang iba ibu yang jadi abu

Ibu, hukum aku!!
Bentakku berkali-kali menyahut
Ibu, kutuk aku!!
Hanya menjadi batu aku patut

Jika ingin, petakan luas dunia menjadi satu
Tujuh kali lipatkan sepadan dengan sabarmu
Jika mau, tangkup segala laut semesta
Terkira setetes ricik asihmu yang turun dari mata
Jika masih, terjemahkan segala bahasa
Aku ucapkan dalam sungkurku dipintu surga yang tersisa
Maaf pernah menjadikanmu nelangsa

Didepan pusara ibu, hanya ada aku, foto ibu, dan kenangan yang binal
kubasuh tanah dengan basah sengal
Barangkali airmata hanya gerimis mula pada hujan sesal

ibu kau tahu, sepeninggalmu, aku hanya sepenggal lalu