Friday, December 7, 2012

PETANI



Dalam sakral surau
Kami tak berani bergurau
Tekun menggeletari wirid hakikat
 jaga bumi agar tak hilang hayat
dalam petak-petak sawah
kami semai berkah
Pagi kami sebar benih
Sore kami bertasbih
tancap bibit jauh ke tanah
rucah pangan semakin ruah

memetik sayur mayur
petik juga buah syukur
jangan sampai hinggap hama kufur

pukul, pukul, pukul hingga kulit tebar menjadi beras
panggul, panggul, panggul semua hasil kerja keras

Siapa bilang di desa manusia terkukung
Disini kami saling menjujung
Adat kami rawat
Bumi kami ruwat

Siapa bilang desa mampat pembangunan
Justru disini kami bangun pondasi harapan
Bendeng-bendeng tegak menggertak
Pada lapar yang menyalak

Disini kami menabur
Benih hidup agar tak menghambur
Disini kami hidup sareh
Bakti alam agar menjadi orang shaleh
Dengan tanah kami nyalakan kenyang
Agar lapar tak menggayang

 Di tilas sempit tanah garap kami
Ada hektar sabar yang tak terdepa

Thursday, December 6, 2012

TERKASIH YANG PERNAH MENJADI KEKASIHKU

Dulu kita hanya punya nama
Lenguh angkuh kita yang rimba
Dulu kita hanya saling kenal
Gelagat liat tak kita hafal
Setelah itu, kita saling memilik nama
Namamu dibelakang namaku namaku melindungi namamu
Setelah itu kita saling mengenal
Kata-kata kasih begitu mudah kita lafal

Kita pernah mengerumuni pasar malam
Biar bianglala berputar asal kita saling menggegam
Dalam ketinggian malam janji bergumam
tetap saling mendekap meski rindu terlepas
Sekedar jarak tak buat kita terhempas

Sepulang dari pasar malam, kita tertipu
Bianglala hidup adalah waktu
semisal waktu mengantar kita diketinggian sana
Asal jangan lupa kembali pada tempatnya
Kini, kita hanya pernah saling mengenal
Kepada namamu telingaku telah kebal
Mungkin juga kamu
Kini, kita pura-pura lupa
Abai dan aus dalam pangkal sapa

kita saling menipu
Tanpa cinta kita masih mampu
Terkasih yang pernah menjadi kekasihku
Kenangan mungkin hanya debu
Bagi kita yang enggan menjenguk masa lalu
Terkasih yang pernah menjadi kekasihku
Adakah sulur-sulur kasihku masih menancap dalam namamu
Hanya sekedar ingin tahu
(atau aku sudah bosan kita saling melempar ‘siapa kamu?’)

Wednesday, December 5, 2012

NENEK MOYANGKU (DULU) SEORANG PELAUT

NENEK MOYANGKU (DULU) SEORANG PELAUT

Nenek moyangku seorang pelaut
Dari dadanya kudapat semangat lecut
Incar matanya awas tak kenal luput
Kepulangannya buat nasib ciut

Langit adalah kitab
Rasi bintang  ayat mencari tetap
Dirapalnya mantra-mantra
Agar dewa laut ikut serta

Nenek moyangku seorang pelaut
Namun kini hasil laut tak buat kenyang perut

Setiap jala disingkap
Hanya buih yang tertangkap
Kadang ikan teri sebagai pelengkap

Ruah ikan menjadi cerita lalu
Racun dan limbah pabrik bunuh mereka lebih dulu

Laut seperti menumpahkan dendam
Daratan pun tak kalah kejam
Harga minyak buat tunduk
Tengkulak tak segan injak tengkuk

Nenek moyangku dulu seorang pelaut
Sedang bendera dwiwarna diatas perahu semakin kusut
Anak cucunya bertekuk lutut
Dihadapan zaman yang semakin tak patut

Dibuangnya mantra dilubang sejarah
Bahwa nenek moyang sudah berganti arah

-setiap ada anak menyanyikan lagu nenek moyangku seorang pelaut
Aku hanya bisa tersenyum kecut-

TAS RANSEL SEORANG MUSAFIR


Wajahnya merunduk. Dibawah lintang panjer rina ia ngedumel seolah memaki-maki jalan yang dia susuri sedari tadi. Wajahnya gelap, kakinya menendang sampah-sampah kecil yang berserak di jalan lengang, sedang pikirannya tak pernah habis pikir dengan kejadian  yang baru saja dia alami.
-dasar manusia, dirumah tuhan saja masih berani mencuri. Pandir keparat. Dan kenapa tasku yang dicuri. Mereka tidak tahu apa didalamnya kekasihku kusemayamkan?-
Setelah berucap dia tertawa terbahak-bahak. Menggeleng-gelengkan kepala dan berlalu.

Ditempat lain, dua oirang tampak sumringah sambil mendengus-dengus disebuah kebun. Dibawanya sebuah tas masuk ke kebun itu. Mereka tampak tertawa sambil membuka tas. Tertawa mereka berhenti setelah salah satu dari mereka melongok isi tas. Diam, tercengang

-ada apa? Tidak ada isinya?-
Dia menggelengkam kepala
-lalu, apa isinya hingga kau bengong begitu hah?-
Dia tetap menggeleng dan menyodorkan tas ke temannya

Mereka berdua kini sama-sama diam. Memucat pasi dan tubuh mereka bergetar. Mereka tidak sadar tas itu hanya milik seorang musafir. Tidak ada yang bisa diharapkan. Tas itu hanya berisi kesepian yang lebih sepi dari tempat sunyi sekalipun. Tubuh mereka dingin. Kesepian dalam tas itu, merenggut nyala mereka. Mereka tidak pernah tahu, hanya kesepian yang menjadi milik seorang musafir. Dan kini kekasihnya telah mereka miliki. 

Monday, December 3, 2012

SEORANG ANAK GEMAR MENGGAMBAR

Seorang bocah gemar menggambar
Sedang suara perut  sudah lama terdengar

Dia suka menggambar roti
Agar lupa ia belum makan sedari tadi

Dengan tangan mungilnya ia bermain warna
Meski hidup tak membuatnya menyala

Gerak tangannya lincah menyambar bayang-bayang imaji
Sedang riuh perutnya semakin menjadi-jadi

Dan kini dia sudah bosan
Diliriknya ke meja, belum ada yang bisa dimakan

Dia membuka satu lembar lagi
Digambarnya periuk nasi
Dia telah kenyang bermimpi

Esok dia adalah pelukis hebat
Karena Dalam matanya, digambarkan zaman yang sudah gawat

Seorang bocah gemar menggambar
Sedang seorang pemimpin, gemar menghambur umbar
Di sebuah negeri penuh kelakar


Thursday, November 29, 2012

KITA SUDAH MATI, IBU

baru tadi pagi, berita tentang kita disiarkan hampir semua surat kabar ibu. Tidak  pernah aku dikenal oleh orang sebanyak ini. banyak orang membaca cerita kita dengan takdzim dihadapan sarapan mereka, sarapan yang hanya bisa kita bayangkan. Mungkin karena cara mati kita yang begitu hebat ibu. Aku yakin bukan karena alasan mengapa kita membunuh diri, aku yakin itu. Foto yang mereka pasang, bukan saat ibu menggendongku dalam keadaan busung lapar, tetapi saat aku dalam pelukanmu padahal kita sudah menjadi abu. Mungkin juga di negeri ini, sebuah kematian dengan cara-cara yang aneh menjadi lauk terbaik untuk sarapan mereka. Dan tangis kita hanya kicauan yang harus terus bergema agar kota besar tidak hilang kesaktiannya. Siapa yang kuat boleh tinggal semaunya, pun untuk menggusur yang dinilai tidak menghasilkan apa-apa untuk pembangunan kota. Kita ibu, kita salah satu dari yang tidak menghasilkan apa-apa itu.
Dalam beberapa jam kemudian, kita menjadi orang terkenal. Orang-orang mulai riuh membicarakan kita. Di televisi-televisi, mereka membentuk sebuah forum diskusi yang membahas mengapa masih ada orang seperti kita sedangkan negara mengaku perekonomian sedang meningkat. Mereka saling melemparkan pertanyaan, lalu dijawabnya dengan mengggebu-gebu, segala macam teori berhamburan di diskusi itu. Mereka  semua orang pintar ibu. Enak ya jadi orang yang pintar, hanya bicara saja dibayar, atau orang pintar memang hanya pandai bicara. Toh aku tidak pernah melihat mereka menyambangi gubuk kita dan melakukan apa yang dari tadi dibicarakannya. Pembual. Penipu, teori saja. Para pejabat pemerintah ikut ambil bagian, mereka berbondong-bondong menengok kuburan kita ibu, lucu sekali. Dan lihat, presiden kita juga berpidato tentang kematian kita. Dia tampak sedih ibu, kasihan ya. Mengapa semua orang begitu peduli setelah kita mati ibu. Kemana mereka selama ini. ketika kita hanya bisa menangis untuk mengganjal lapar kita, ketika ibu hanya bisa membeli seliter minyak tanah dan satu kotak korek api. Bukankah kematian menghentikan semuanya, bahkan untuk sebuah kepedulian. Mati ya mati, pulang ke pelukan tuhan, itu saja. Atau, memang sudah menjadi tradisi di negeri ini bahwa kematian seseorang lebih berarti dari hidup orang tersebut. Negeri aneh, berani mengaku merdeka sedangkan untuk peduli terhadap anak yang masih hidup saja tidak mampu. Tetapi seperti yang aku tahu, hal seperti ini tidak akan berlangsung lama. Hanya menjadi formalitas kenegaraan, rutinitas sepanjang tahun, santapan media yang hangat kemudian dibiarkan menghilang karena sudah basi. Sedang teman-temanku disana masih banyak yang mencoba menekuri garis hidupnya, sambil dihimpit rasa lapar yang selalu tamak. Ya, hanya sesaat kemudian hidup akan berjalan seperti biasanya. Perubahan, cita-cita reformasi katanya ibu. Perubahan kekuasaan iya, perubahan keadilan, aku tidak yakin.
Kita sudah mati ibu. Dan diatas sini aku bisa melihat jelas semuanya. Melihat kepura-puraan yang terus berlangsung. Dari sini, aku bisa tertawa ngakak. Manusia ternyata memang lucu kalo dilihat dari atas sini. Pantas saja malaikat selalu bahagia, terhibur melihat kekonyolan-kekonyolan yang terjadi. Kita sudah mati ibu, dan hanya cara itu yang bisa kita lakukan untuk menuntaskan hidup yang tak kunjung tuntas. 

Saturday, November 24, 2012

jejak laku buruh wanita

jaman boleh saja berubah
namun perjuangan tetap milik kaum marsinah
Wajah-wajah ayu tertutup masker
berharap peluh tertukar beras seliter

jaman boleh saja canggih
Namun buruh tetap saja kalah menagih
Setiap menagih upah
Tuan bilang kerja mereka payah
Setiap menagih janji
Dengan pemerintah mereka kalah taji

wanita Lelakon emansipasi
Hidup tak harus bergantung pada lelaki

Dikaki kuat buruh wanita
bagaimanapun surga dibawanya
Wajah ayu didera lembur
Tanda periuk tak boleh berjamur

asap pabrik harus menguar
Agar asap dapur tetap mengebul

Di kantuk lelah mata buruh
Tuhan menyala penuh

Dalam mata kantuknya, mata pencaharian mengutuknya