Thursday, December 20, 2012

INDONESIANYA INDONESIAKU



Pagi yang sempurna
Ibu penjual sayur yang membuatnya
Juga harum pasar dan cengkrama pagi buta
Inilah budaya indonesia
Pagi yang sempurna
Tanah menjulang menjadi pengebirinya
Juga harum ac dan transaksi aneh khas kota
Mesin bergerak
Mesin-mesin berbicara
Bahwa inilah kelayakan indonesia

Adakah tempat untuk kami,di tanah kami sendiri?

Friday, December 14, 2012

DOA PEMUDA RANTAU



Dengan whisky di tangan kanannya
Dibuat bumi berputar seenaknya
Kepalanya mulai kepayang
Tubuh melayang-layang

Lucu, geli, aneh, ekstase
Dalam kamar dialeanase
Seperti hiasan rumah terperangkap etalase

Kamar mulai semarak
Tertawanya menebar aroma tuak

Seketika, sebuah bayangan hitam menghampirinya
“siapa kamu!”
 Terbata membaca kata yang ingin diucapnya sendiri
“aku? aku kawanmu sekarang, namaku suram”
“tidak! Aku tidak punya kawan sepertimu!”
“bagaimana bisa, bukankah kamu sendiri yang menciptakanku?”
“Tidak!aku tidak pernah menginginkanmu, pergi! Aku sedang ingin sendiri!”
“aku disini untuk menjagamu!”
“tidak perlu!sudah ada orang tuaku yang menjagaku!”
“bukankah orang tuanmu jauh?mereka tau apa sekarang tentang kamu”
“tapi aku tidak ingin dijaga olehmu!”
“Pokoknya pergi!”
“Semakin kau marah, semakin melekatlah aku, kini aku adalah bayanganmu, tidak mungkin bayangan meninggalkan tuannya sendiri”
“akan kuadukan kau ke Tuhanku”
                “bukankah tuhanmu sudah kau bunuh dengan whisky ditanganmu itu”

Pecahlah tangis
Dan parau suara yang bergema ke seisi ruangan
“tuhan, masih bolehkah aku berserah, meski aku sedang payah
Masih bolehkah aku berdoa kepada Engkau, meski aku sedang berkeadaan kacau”

Wednesday, December 12, 2012

O,

Masih, meski kau koyak aku dengan benturan fraktal-fraktal kosong, kata-kata bertanda seru tiga
Masih, meski nyalang matamu semakin menyala belah belai kasih hingga sirah
Meski, masih kau geramkan dendam hingga berdecit dalam gua dimana ucap berhilir
Meski, masih kau simpan keengganan dalam riak keanggunan yang sempat buat terkilir
Selebihnya, mengapa masih kau sisihkan meski untuk merestui kita?

TUKANG BECAK DAN ANAK LAKI-LAKINYA YANG SEDANG BELAJAR


Setelah seharian mencari nafkah, seorang tukang becak pulang kerumah. Didapati anaknya sedang tekun membaca entah. Diamati anak lelakinya, tampak mengernyit dahi, lalu memukul-mukulkan buku ke kepalanya sendiri. Cari tahu saja nanti, mungkin ada baiknya bergegas mandi. Setelah selesai mandi, ditengoknya lagi anaknya, masih seperti tadi, tampak mengernyit dahi, lalu memukul-mukulkan buku ke kepalanya sendiri. Tukang becak itu semakin tidak mengerti, kepada tingkah anaknya yang umurnya baru saja menyentuh kepala dua. Lalu bapak tukang becak itu menghampiri anaknya, dengan hati-hati beliau bertanya
“apa yang sedang kau lakukan nak.”
“aku hanya sedang belajar.”
“memang, apa yang sedang kau pelajari? Sesuatu yang buatmu kepayang?”
“Aku sedang belajar bagaimana menjadi laki-laki yang baik.”
Bapak tukang becak itu hanya tersenyum, menghela nafas, lalu bertanya sekali lagi
“Bukankah dari dulu kau sudah membacanya, namun kau tidak juga memahaminya?”
Anak itu semakin tidak mengerti.
“bagaimana kalau kau buang saja bukumu itu dan akan kuberi kau buku yang seharusnya kau baca”
Anak itu mengangguk, kepada bapaknya dia percaya sepenuhnya
“mana buku itu pak?”
“buku yang harusnya kau baca, ada dihadapanmu sekarang. Bapakmu sendiri. Mata bapakmu ini adalah jendela untuk memasuki buku itu. Tubuh bapakmu ini adalah ayat yang menjelaskan buku itu. Biar bapak perjelas, mungkin akan panjang, semoga kau tidak lebih dulu bosan.”
Anak laki-laki itu sekali lagi hanya mengangguk
“mungkin bapakmu hanya laki-laki dengan pekerjaan rendah, namun bapak tak pernah sekalipun lupa pulang kerumah. Mungkin bapak hanya seorang tukang becak, namun itu jalan yang telah menjauhkan kita dari berlagak. Bapak takut akan congkak. Mungkin bapak hanya tukang pengantar, namun bapak tak pernah buat keluarga ini lapar, bagaimanapun caranya. Mungkin bapak bagian dari buruh kuli, tapi tak sekalipun bapak biarkan kosong periuk nasi. Mungkin bapak hanya laki-laki yang selalu didera lelah, namun bapak tak pernah ingin buat keluarga ini payah. Mungkin dunia akan mengatakan bebal karena bapak memilih becak sebagai pekerjaan. Sedang kesempatan untuk menjadi lebih begitu lebar. Bapak hanya takut, kita menjadi sesumbar, karena materi begitu mengumbar. Bapak hanya takut tuhan membenci kita. Mungkin bapak hanya seorang tukang becak dengan kayuh yang sudah lambat, tapi bapak tetap kuat. mungkin bapak hanya tukang becak yang sering berkantong bolong, namun selama halal, komentar mereka tentang apa yang kita jalani hanya omong kosong. Mungkin pekerjaan bapak membuat percaya dirimu tercabik, namun sebaik-baiknya laki-laki adalah dia yang bisa memilah jalan yang baik. Mungkin bapak hanya buku lusuh dan usang, namun semoga, isinya tak membuatmu pantang. Laki-laki adalah dia yang berdiri dengan kakinya sendiri, menanggung apa yang telah ia pilih, berani hidup meski nasib sering membuatnya nyeri, dan selalu berharap ankanya bisa lebih baik dari dirinya sendiri.”
Bapak tukang becak itu kemudian berlalu menuju ruang tamu. Dan anak lelakinya menyobek secarik kertas. Dengan mata yang menyala ditulisnya sebuah kata dengan ukuruan besar
-mungkin bapakku hanya tukang becak, namun dialah laki-laki yang membuatku berdecak-

Ditempelkannya tulisan itu di dinding hatinya. 

Tuesday, December 11, 2012

MATI SURINYA SEORANG PENYAIR

hari ini aku sedang malas menulis puisi
pagi lebih dulu mengheningkan cipta
tanpa pagina-pagina kata menuntun gemulirnya

syair jauh kebalik bukit
menggulung hutan-hutan menjadi klimaks mengentah
dalam batok kepalaku
sajak menggali tanah
mengubur kabar yang teramat lamat

selebih malam
habis menggugurkan malas menuju gigir
jenak sejenak sekedar hingga lupa menakar kadar
mungkin sudah habis kupangkas benih-benih yang menjadi pangkal
lebur sudah semai akal
atau tidak 
apapun
aku sedang malas menulis puisi

Monday, December 10, 2012

(mungkin) AGNOSTIK


Aku ingin mengikuti musa, karena hanya dia yang berbicara langsung dengan tuhan
Aku ingin mengikuti yesus, karena hanya dia yang menjadi anak tuhan
Aku ingin mengikuti Muhammad, karena hanya dia yang menjadi kekasih tuhan
Kini, aku dalam persimpangan, sedang aku begitu mencintaimu tuhan
Tuhan, bolehkah aku mencintaimu, namun tak satupun agama kuanut
Aku takut
Agama membuatku semakin tak patut
Aku ngeri
Agamaku membuat kesucianmu nyeri

PENJAGA MAKAM

Menjelang malam
Dinyalakannya suar oncor menerang
Malam ini tak boleh lagi kalah curang
Mata picing adalah alat rekam siap menerkam
Kepala endap pencuri makam, Jangan lagi menang
Bukan nyali buat gidik tengkuk merebah
Hanya sesap nasib harus berubah
Anaknya, thole
Esok harus bayar uang sekolah

Merunut gigir kuburan
Kiranya ada kematian tertinggal
untuk bunuh nasib yang sudah lama tertanggal

barangkali, jejak peziarah masih meninggalkan berkah
untuk kemudian dipulung dan dibawa pulang

burung gagak riuh rendah menyambar makam dalam kepalanya
ah, lagi-lagi maut
tak segan menghabisi oncor yang tinggal sesulut

sesampai rumah, dibisikinya thole yang sedang lelap
“maaf nak, esok akan ada yang mati, kebaikan tumbang sekali lagi”

Kehidupan kini, kuburan tempat semayam
Kebaikan massal dikebumikan