Wednesday, November 6, 2013

JIKA KAU TANYA MENGAPA

sejak dunia mengenalkan batas
"hentikan kapal jika telah tiba air keruh dan pasir basah"
dan kudayung sampan menuju pulau penuh batang tebu
"sesapi sampai kau mengerti getir"
tetapi sepi lebih dulu tunai daripada pemberangkatan kemudian

sejak dendang lagu cemas lebih sering terdengar 
ketimbang
suara parau burung penanda daratan tinggal sejengkal
sejak,
sajak tak lagi mampu menggugurkan waktu
dan melipatnya menjadi perahu
sajak yang tak lagi memalingkan tatap menuju cekung langit
dengan pengharapan
akan gugur bulan sebesar biji kopi yang dihantar petir
menuju tengadah tanganmu

jika kau tanya mengapa
sejak tak kuhitung sudah berapa kali jatuh belasan bakal ketika memetikkanmu puisi yang ternyata adalah dua belas!
sejak penanggalan kulipat, kubagi menjadi retakan tulang, pecahan batu, putik bunga dan kering daun jati
kubakar,
asap bulan sembilan
jika kau benar-benar menghitung
akan ada tiga belas untuk dua belas
sepuluh untuk sembilan
tetapi apalagi
padahal duga lebih dulu menyaru sebelum diammu benar-benar bungkam
tukang dendang bisa saja salah memetik gitar
pandai emas bisa saja salah menyangka perak

sejak, kumau kau apa saja asal jangan diam
tegaslah, bergegaslah, apapun
asal jangan diam
lalu dunia mengenalkan batas
menagih tepian tebing dalam hutan gunung antara
mengharapkan atau menghirabkan

jogjakarta 2013

Thursday, October 24, 2013

HARI SEPI

mari coba berhitung
telah berapa purnama tiba di gang-gang penanggalan
telah berapa pasang air laut mengaramkan jala para nelayan
sebab aku tak pandai menghitung kehilangan
sebab sementara tetap pasang air laut bagi nelayan

lalu waktu biarkanlah beku
atau cairkan agar kita sama-sama tahu
rindu mana yang meleleh lebih dulu

aku tak begitu lihai menipu waktu
jejak kota, jejal kata siapa lagi kalau bukan kau
yang membakar pangkal malam dengan pingkal cerita tua
lagu-lagu radio butut di geladak
menghibur pelaut beraroma tuak

ketika punggungmu telah sampai pada yang membenamkan
dermaga tumbang menindih sebelah jantung sebelah paru
sebilah sepi sesaplah sampai ulu hati
benang yang menggulung layar kapal
"ini pun tetap kita tenun, sebab kita telah jadi hari esok"

nanti, ketika kering daun kelapa jatuh di tanah hujan
rumah-rumah telah kutidurkan di atas ranjang
ketuklah jika kau ingin
kutuklah jika kau dingin

disini, kucium bau sisa rindu kemarin pagi
dan hari baru sebab rindu tunas tak berkesudahan
dengan elang laut yang mencoba peruntungan
dengan biji embun yang gigil
nyiur angin berat di daun pohon trembesi
sayup suara bocah yang malas pergi mandi
harum tungku tertindih pantat kuali
lihatlah,dengan rindu di sudut mata puan
aku telah begitu pandai mengeja gejala pagi yang telah kau.

jogjakarta 2013

Saturday, September 28, 2013

SUATU HARI DI SEBUAH DERMAGA

bukankah telah kita ramalkan
tanpa bola-bola kristal, helai kartu dan doa-doa dalam ramuan 
kita memang harus benar-benar dekat
karena satu itu utuh, dan dekat tak akan membuat jatuh
 tetapi jauh berkali-kali ditabuh
dalam kepala ritme menari aduh
bukankah kita telah diramalkan
oleh rapal-rapal mantera penangkap ikan
oleh bulan yang warnanya sekuning tembaga
kita akan berlabuh dalam satu dermaga
tapi dada kita tetap bergemuruh
sejak laut pasang, dan ombak bergulung menelan sauh
sejak angin menaikkan layarmu 
menuju perbukitan di kejauhan sana
mata ini masih saja intai
meski perihnya serupa tersiram garam
dan kelopak telah hitam legam
sambil mengucap mantera sederhana
-aku ingin melihatmu, aku ingin melihatmu_-

oh, tuan penyihir di pulau api
tuan penyair di pulau sepi 
ajari aku tuah 
lebih-lebih berkah
dari para penggumam doa
bagaimanapun rindu telah padu
jangan karamkan meski dihantam gunung batu

lalu seorang nelayan merapat membawa dua ekor tenggiri di tangan kanannya
dan belukar jala di tangan kirinya
"duh nak, janganlah terlalu lama biru
lekas asapi saja ikan ini, sambil dendangkan lagu 
bayangkanlah ketika pagi nanti
 gadis itu tersenyum dan bertanya kabar tentangmu
dan aroma rindu keluar dari tubuhnya"

jogjakarta 2013

Friday, September 27, 2013

DI PERJALANAN PULANG

pada jalan yang menidurkan malam di pangkuanmu itu
tunas-tunasmu telah bercikal
beranak-pinak menjadi jabang yang bercabang merah
"hangatkan lagi ingatanmu" katamu 
bagaimana bisa
jika kau sendiri adalah nyala pada suluh apiku
dekatkan lagi ingatanmu padaku" katamu
dan seketika kita telah dekat dari yang terlihat
jalan-jalan mulai menggambar lagi wajahmu
pagi akan benar-benar mengutuk kita dengan serapah matari
tentang kenangan yang tak kenal pagi
tentang ingatan yang lupa untuk tertidur
demi jalan yang menidurkan malam di pangkuanmu itu
asap kenangan itu mengepul tepat diwajahku
di kota yang akan kau singgahi nanti
akan kau temui kepul asap dan riuh jalan
tetapi disana
kau tak akan menemukan asap sewarna pastel, sebasah kabut
yang aromanya membuatmu bergidik
tajam serupa mata badik, tapi tak cukup untuk melukaimu
di kota yang ditumbuhi hutan beton itu
belantara kenangan kita adalah akar
tancapkan agar kau tak lekas tumbang
subuh telah lama rubuh
di telingaku, percakapan kita masih saja utuh
mengapa kau harus memasuki peradaban sejauh itu?
"agar aku mengerti apa arti pulang, kelak" jawabmu

demi jalan yang menidurkan malam di pangkuanmu itu
adakah yang lebih maut
dari pagi yang terlalu larut
dimana aku, kau
dan pelukan yang dilepas pelan-pelan
tak bisa saling menahan

solo-jogja 2013



Sunday, July 21, 2013

YANG (TETAP) TAMPAK DARI JAUH


Dan jauh, rupanya, telah menggulung beberapa lembar puisi, juga menumpulkan mata pena dihadapan kering kerling tinta.
Dan jauh, nyatanya, telah memaksa sejumput angin untuk mengepung diriku dengan gambaran-gambaran tentang esok ketika aku telah selesai, tentang lipatan-lipatan ingatan yang menjadi perahu untuk kemudian berlayar menuju ngarai matamu hingga aku tidak lagi membutuhkan puisi untuk membuatmu maklum mengapa tuhan menciptakan kita dalam satu cerita yang tak pernah kita mampu tamatkan.

Aku telah lama berlabuh pada dermaga yang kau bangun dengan debu kenangan, gebu rindu dan warna-warna toska. sedang untuk kembali berlayar, aku terlalu takut pada laut yang menyimpan cerita-cerita kuno, mitos hantu laut, dan cenayang para penjelajah. Ah biar saja kujelajahi peta-peta di dirimu, terjal hatimu, puncak rindumu, lembah kenanganmu, curam takutmu. Aku tidak peduli lagi perahu telah koyak ditelan abad. Ah biar kupapah lagi kayu-kayu agar sempurna geladak, yang pecah setelah dihantam jaman yang begitu badai. Ah biar kutenun lagi layar agar gelombang tak lagi berani menelan mimpi-mimpi yang telah terbentang.
Di kejauhan dan ketinggian seperti ini, aku tidak membutuhkan apa-apa lagi untuk melihatmu. Karena, pada akhirnya, aku adalah air yang membawa perahu turun ke dalam dermaga.  



jogja 2013

Tuesday, June 18, 2013

ODE SEBUAH NAMA

Tuliskan lagi sejarah sebuah nama
Ia, yang telah menjadi peristiwa dan udara
Atau sungai, tempat menuju beku yang paling bara
Rumbia dengan langit penuh kenangan belantara

Namun, ia sendiri adalah matahari
Untuk segala yang hidup, untuk semesta yang telah toska,  untuk hati yang paling laki-laki?
Riwayat telah melumpuhkan segala yang batas; ada baiknya kita pugar lagi, kita rajut kembali
Uraikan lagi simpul yang paling temali, agar kicau tak lagi mengacau, agar
Luka yang telak itu tak menjadi satu-satunya peta, menyusuri perbukitan yang kelak, memintanya tinggi

 Coba sekali saja wiridkan sebuah doa
"Hidup yang sekali ini, mestinya kita berdua saling menghidupkan, selamanya"

Sunday, June 16, 2013

PAHLAWAN YANG SEDANG MENJADI PENGEMIS

maka, tubuhnya yang miskin telah dijadikan ladang
oleh lalu lalang yang kepalang

konon, tangan buntungnya adalah hasil rekaan
dari sebuah parang, dari sebuah perang
dan dibalut ingatan

nasib buruk telah lama bertengger di buhul-buhul kepalanya
tetaskan hidup 
atau tuntaskan hidup

dalam batok itu
tuhan sedang nyaman
bersemanyam

di negeri ini, pejuang adalah 
dia yang kemarin memperjuangkan bangsanya,
dan hari ini memperjuangkan nasibnya, sendirian